KABUR
Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan anak muda yang sedang bersemangat dengan impiannya. Dia bercerita bahwa dia sedang galau. Orang tuanya tidak menyetujui dia bekerja di tempat yang jauh. Padahal perusahaan yang mau menerima dia adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang dia inginkan dan sukai. Ketika orang tuanya tidak menyetujui, maka saat itu juga dia pergi dan tidak berbicara dengan orang tuanya selama seminggu. Hatinya terlalu kesal karena orang tuanya tidak mengerti apa yang dia inginkan.
Ketika saya tanya apakah dia sudah menjelaskan mengapa dia ingin kerja di perusahaan tersebut. Dia bilang sudah, tetapi orang tuanya tetap tidak mengijinkan dia pergi. Saya terdiam mendengarnya. Saya ingat bahwa saya dulu sering juga melakukan hal yang sama. Ketika permintaan saya ditolak ibu, tanpa bertanya kenapa saya langsung marah dan tindakan paling gampang adalah diam dan kabur. Berharap waktu akan menyelesaikan masalah dan permintaan saya dikabulkan orang tua. Kenyataannya, permintaan tetap tidak dikabulkan dan hati terus kesal dan galau.
Kalau dipikir-pikir lagi, capek juga ya bolak-balik kabur kalau permintaan kita tidak terpenuhi. Dan sekali lagi kalau dipikir-pikir, kenapa ya permintaan kita belum terpenuhi. Apa yang mesti dilakukan?
Kembali ke anak muda. Dia cerita bahwa sebelumnya orang tuanya sempat bertanya ke dia, bagaimana dia bisa survive di lokasi yang jauh dan terpencil itu? Dia menjawab.. nggak tahu pokoknya dijalanin saja. Ketika ditanya lagi, bagaimana dia kalau nanti ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi? Dia jawab lagi.. nggak tahu pokoknya kerja saja dulu.
Hmmm… apa yang kurang pas ya? Saya lagi membayangkan kalau saja anak muda ini menyiapkan jawaban yang lebih meyakinkan ketika mendapat challenge dari orang tuanya. Apa yang akan terjadi ya? Saya juga membayangkan kalau saja anak muda ini tidak keburu marah dan kabur karena penolakan orang tuanya. Bagaimana situasinya ya?
Kabur adalah cara paling mudah ketika kita berhadapan dengan persoalan atau tantangan. Tapi apakah persoalan selesai? Tidak. Persoalan masih akan tetap ada sampai kita benar-benar menghadapinya dengan strategi yang sudah disiapkan.
Setuju? Atau tetep mau kabur-kaburan?
Penulis: EL – praktisi HR
